Wednesday, March 7, 2012

Sejarah Kopi Di Indonesia

Ditahun 1696, Gubernur Belanda di Malabar mengirimkan biji kopi ke Gubernur Belanda di Batavia, pengiriman pertama hilang karena banjir yang terjadi di Batavia, pengiriman kedua dilakukan tahun 1699.

Eksport kopi pertama dilakukan tahun 1711 oleh VOC, dalam tempo 10 tahun eksport meningkat sampai 60 ton/tahun, Indonesia adalah tempat perkebunan pertama dil uar Arabia dan Ethiopia dan VOC memonopoli perdagangan kopi ini dari tahun 1725 sampai 1780.

Ditahun 1700an harga kopi yang dikirim dari Batavia sekitar 3 Guilder/kg di Amsterdam dan itu sama dengan beberapa ratus USD/Kg dengan kurs saat ini, harga kopi memang sangat mahal saat itu. Akhir abad 18 harga kopi mulai turun menjadi 0.6 Guilder/Kg sehingga kopi bisa diminum untuk kalangan yang lebih luas lagi.

Terlihat bahwa perdagangan kopi sangat menguntungkan VOC, tetapi tidak bagi petani kopi di Indonesia saat itu karena diterapkannya sistem cultivation [Cultuurstelsel].

VOC kemudian melebarkan sayap dengan menanam kopi diluar Jawa seperti di Sumatra, Bali, Sulawesi dan Timor. Di Sulawesi mulai ditanam tahun 1750, di dataran tinggi Sumatra Utara dekat Danau Toba ditanam sekitar tahun 1888 dan di Gayo, Aceh dekat danau laut tawar ditahun 1924.


Saat ini ada 20 varietas kopi arabica di Indonesia yang terbagi dalam 6 kategori yaitu :


Kopi Arabica

Typica – ini tanaman yang aslinya dibawa oleh Belanda dan sebagian besar hancur ditahun 1880s, saat penyakit daun kopi menyerang Indonesia, tetapi di Bergandal dan Sidikalang, varieties Typica masih bisa ditemukan terutama ditempat dataran tinggi.


Hibrido de Timor (HDT) – dikenal juga dengan varietas “TimTim”, persilangan antara arabica dan robusta, pertama diambil tahun 1978 di Timor Timur lalu ditanam di Aceh tahun 1979.

Linie S Varietas ini dikembangkan di perkebunan Bourbon, India dan jenis yang terkenal adalah S-288 dan S-795, bisa ditemukan di Lintong, Aceh, Flores dan daerah lain.

Ethiopian lines – Menyebar di Jawa tahun 1928 lalu juga ke Aceh. Varietas dari Ethiopia lain yang ditemukan di Sumatra ada yang disebut “USDA”

Caturra cultivars: Caturra adalah mutasi dari kopi Bourbon coffee, nerasal dari Brasil.


Catimor lines – Persilangan antara Arabica dan Robusta sangat kurang aromanya. Tetapi ada jenis Catimor yang terkenal yaitu “Ateng-Jaluk”. Riset juga menunjukan bahwa varietas lokal catimor di Aceh menghasilkan karakteristik kopi yang sangat baik.



Kopi Robusta 

Mulai diperkenalkan di Indonesia ditahun 1900an untuk pengganti kopi arabica yang hancur saat terjadi penyakit tumbuhan menyerang tanaman kopi arabica, kopi robusta yang lebih tahan terhadap hama dianggap sebagai alternatif yang tepat terutama untuk perkebunan kopi didaerah dataran rendah


Coffea canephora (Robusta Coffee; Coffea robusta) adalah spesies kopi yang asalnya dari Afrika Barat dan banyak tumbh di Afrika serta Brazil, biasa disebut Conillon. Kopi ini juga tumbuh di Asia Tenggara ketika kolonial Perancis memperkenalkannya akhir abad 19 di Vietnam yang menyebabkan Vietnam yang memproduksi hanya kopi Robusta melewati Brazil, India dan Indonesia menjadi penghasil kopi nomor satu didunia.
Sekitar 1/3 produksi kopi dunia ialah kopi Robusta, kopi ini lebih mudah perawatannya dibandingkan jenis lainnya sehingga biaya produksinya juga murah dan karena kopi arabica dikenal dengan kualitas yang lebih baik, kopi robusta biasanya dibuat kopi instant, espresso dengan tingkat caffeine hampir 2 kali lipat dibandingkan arabica.
Coffea canephora / Robusta yang tumbuh dibagian Afrika Barat serta Tengah tidak dikenal sebagai spesis kopi sampai abad ke 18, bisa mencapai ketinggian 10m dan memerlukan 10-11 bulan sampai bijinya bisa dipanenn. Secara umum kopi jenis ini lebih tahan terhadap cuaca dan mudah pemeliharaannya dibandingkan kopi arabica. Saat digongseng, aroma yang keluar mengesankan aroma karet yang terbakar dan lebih menusuk hidung dibandingkan aroma kopi arabica, aroma ini mengesankan “kekuatan” dikomunitas kopi di Italia.
Kopi Liberica (Coffea liberica)             

Kopi Liberika ini ditemukan di hutan Liberia dan Pantai Gading.
Kopi ini mempunyai ukuran pohon yang lebih besar dari kopi Robusta. Memiliki buah dua kali lipat dari Arabica. Ini adalah tanaman yang membutuhkan suhu tinggi dan air berlimpah. Karena karakteristik ini, Liberica Coffea dipilih sebagai graft-holder.
Tanamannya sendiri lebih tahan terhadap penyakit yang umum menyerang pohon kopi. Produksi buah sepanjang tahun dan tumbuh dengan baik apabila di tanam di dataran rendah. Beberapa varietas kopi Liberika yang ada di Indonesia adalah Durvei dan Ardoniana.


Kopi Ekselsa (Coffea excelsa)

Kopi ini ditemukan pada tahun 1904. Dikembangkan karena lebih tahan terhadap penyakit yang umum menyerang tanaman kopi.
Jenis ini dibudidayakan di dataran rendah yang basah, yaitu daerah yang tidak sesuai untuk kopi jenis lain seperti Arabica dan Robusta. Ciri khas kopi ini antara lain memiliki cabang primer yang bisa bertahan lama dan berbunga pada batang yang tua. Apabila dibiarkan tumbuh selama bertahun-tahun dapat tumbuh menjadi sebuah pohon yang besar. Batangnya kekar dan memerlukan jarak tanam yang relatif kecil dan tidak beragam, seperti kopi Liberica.
Memiliki hasil buah dan biji yang tinggi dan memberikan kopi dengan aroma menyenangkan, mirip dengan salah satu dari Coffea arabica. Kopi ini memiliki harga yang lebih tinggi daripada kopi Robusta.

Tahun Spesies ditemukan :1905
Kromosom (2n)               : 22
Bunga berubah ke biji kopi matang :12 Bln
Biji kopi matang :Tidak Jatuh
Hasil panen (kg biji / ha) : 800-1200
Suhu optimal rata-rata tahunan : Mampu di atas 30° C
Tumbuh di ketinggian : 1-200 m
Hemileia vastatrix : Bertahan
Nematodes : Bertahan
Koleroga Noxia : Bertahan
Tracheomycosis : Bertahan
Kandungan Kafein : 2%
Bentuk biji kopi : Tidak seragam
Karakter rasa : Dominan Pahit


Kopi Racemosa (Coffea racemosa) - Inhambane coffee and Mozambique coffee

Coffea racemosa
Sinonim dengan kopi ini adalah Coffea mozambicana DC. and Coffea swynnertonii S. Moore.
Kopi ini ditemukan di Zimbabwe.
Tumbuh baik pada ketinggian diatas 1000 m dpl. Berbunga pada awal september sampai bulan februari. Kopi memiliki sedikit kandungan kafein tetapi mempunyai aroma yang kuat.




 Kopi Sierra Leone (Coffea Stenophylla)



Coffea stenophylla
Kopi ini dibudidayakan di Guinea, Sierra Leone dan Pantai Gading, tahan terhadap kekeringan. Bau atau aroma kopi ini menyerupai bau-bauan teh.


Coffea Mauritiana


Coffea mauritiana
Kopi yang ditemukan di Mauritian ini, menghasilkan sebuah rasa kopi pahit yang diperoleh dari kopi jenis ini.





Coffea Congencis


Coffea congensis
Datang dari Kongo, menghasilkan kopi berkualitas baik tetapi pertumbuhan daun dan buah sangat tidak produktif.









Coffea Dewevrei
Kopi ini berasal dari hutan Kongo Belgia.                                                                              


Coffea Neo-Arnoldiana

    Juga ditemukan di Kongo, memiliki hasil buah yang tinggi.


    Coffea Abeokutoe
    Dibudidayakan di Pantai Gading, buah dan rasa mirip dengan Coffea arabica.


    Coffea Dybowskii

    Kopi ini adalah kelompok Eucoffea antar-daerah tropis Afrika.

    -------------------------------------------------------------------
    Klasifikasi:
    Kingdom:    Plantae
    Phylum:       Spermatophyta
    Class :         Angiosperma
    Order :        Gentianales
    Family :       Rubiaceae
    Subfamily :  Ixoroideae
    Genus :       Coffea

    Beberapa species kopi :
    - Coffea arabica - Arabica Coffee
    - Coffea benghalensis - Bengal coffee
    - Coffea bonnieri
    - Coffea canephora - Robusta coffee
    - Coffea congensis - Congo coffee
    - Coffea dewevrei
    - Coffea excelsa - Excelsa coffee
    - Coffea gallienii
    - Coffea liberica - Liberian coffee
    - Coffea magnistipula
    - Coffea mauritiana - Café marron
    - Coffea mogeneti
    - Coffea stenophylla - Sierra Leonian coffee
    - Coffea racemosa

    Species baru kopi yang ditemukan pada tahun 2008 oleh Kew, peneliti dari Royal Botanic Gardens di pegunungan Madagascar adalah :
    - Coffea ambongensis,
    - Coffea boinensis,
    - Coffea labatii,
    - Coffea pterocarpa,
    - Coffea bissetiae
    - Coffea namorokensis dan pada tahun 2009, Kew juga menemukan lagi 2 species kopi baru, yaitu :
    - Coffea anthonyi
    - Coffea charrieriana - Cameroonian coffee, kopi ini ditemukan di Kamerun. Pertama kali dari Kamerun       ditemukan kopi yang bebas kafein. Nama charrieriana diberikan kepada spesies kopi ini untuk menghormati seorang Profesor A. Charrier, yang berhasil melakukan penelitian kopi, pemuliaan dan misi mengumpulkan di IRD selama 30 tahun terakhir pada abad ke-20.

    Selain species-species kopi di atas, masih banyak terdapat varietas kopi  arabica dan kopi robusta, yang pastinya punya rasa yang berbeda-beda, sesuai dengan kondisi alam, proses dan pengembangannya masing-masing.

    No comments:

    Post a Comment